Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Merasakan Kasih Tuhan

Berbicara kekristenan adalah berbicara kasih. Berbicara Tuhan adalah berbicara kasih. Berbicara Injil jg adalah berbicara kasih. Sebab inti dari kekristenan adalah kasih Tuhan yang rela mati untuk menebus kita dari dosa.

Yohanes 3:16 (TB)  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kalau demikian, maka memberitakan Injil adalah sama artinya dengan memberitakan kasih Tuhan. Untuk dapat memberitakan kasih Tuhan maka kita harus mengalami sendiri kasih Tuhan itu, baru kita bisa saksikan itu buat orang lain.

Seorang saksi adalah seorang yg mengetahui, mengalami, dan merasakan sendiri suatu hal atau peristiwa. Ibarat seorang pembeli menanyakan rasa makanan yang dibeli. Dia sendiri harus mencicipinya sendiri baru benar-benar bisa merasakan makanan itu enak atau tidak. Setelah itu baru dia bisa merekomendasikannya untuk teman atau keluarganya. 

Belajar dari seorang tokoh bernama Ayub

Ayub 42:5 (TB)  Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

Setelah segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi atas hidupnya, Ayub bisa berkata bahwa dia mengenal Tuhan secara pribadi. Ayub mengakui bahwa dulu, dia tahu Tuhan dari apa kata orang.

Kesalehan dan imannya hanya berdasar apa kata orang. Ketika dalam kondisi seperti itu, dia tidak mudah bersaksi buat orang lain bahkan anaknya.

Ayub 1:5 (TB)  Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.

Ayub hanya mendoakan anaknya bukan mengajak anaknya berdoa. Tetapi setelah mengalami berbagai peristiwa, kisah hidupnya ditulis dalam sebuah kitab yang sampai sekarang bisa menjadi kesaksian dan memberkati banyak orang.

Dengan segala yang terjadi Ayub mengerti bahwa Tuhan adalah: Sumber kekuatan, Sumber pengharapan, Sumber kedamaian. Tuhan yg memberkati, Tuhan yang memulihkan dan Tuhan yang menyembuhkan. Anak-anaknya mengerti, sahabatnya mengerti, semua orang yang membaca kisahnya mengerti siapa itu Tuhan.


Orang yang mengalami kasih Tuhan akan lebih mudah bersaksi tentang kasih Tuhan atau setidaknya kisah hidup dan pengalaman hidupnya bisa dilihat banyak orang bahwa Yesus hidup dalam kehidupannya.

Bagaimana dengan kita?

Adakah kita mengalami Tuhan secara pribadi?
Maukah kita mengalami Tuhan secara pribadi?

Banyak orang berkata mau kalau pengalaman itu adalah yang menyenangkan dan mendapat berkat. Tetapi bagaimana jika berkat itu dibungkus dalam sebuah persoalan? Maukah kita?

Ayub 2:10
Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Bersyukur atau bersungut-sungut?
Bertahan atau menyerah?

Itu akan sangat menentukan apakah engkau akan keluar sebagai pemenang dan menjadi saksi atau sebaliknya.

Kiranya kita dimampukan oleh Tuhan untuk terus percaya sampai pada waktunya Tuhan akan membawa kita kepada kemenangan sehingga kita dapat merasakan sendiri kasih Tuhan dan menjadi saksi bagi Tuhan. Selamat merenungkan, Tuhan Yesus memberkati.. 

Posting Komentar untuk "Merasakan Kasih Tuhan"