MERAWAT KESEHATAN JIWA
Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan..
Kali ini kita akan berbicara soal yang enak-enak—yaitu punya hidup yang sehat. Hal yang paling enak didunia ini adalah kesehatan. Kalau gak sehat, mau makan makanan paling enak didunia pun akan terasa tidak enak, punya harta sebanyak apapun tidak akan bisa menikmati.
Berbicara soal kesehatan bukan cuma badan, tapi juga jiwa! Jangan cuma isi kulkas yang diperhatikan, isi hati juga perlu dicek—jangan-jangan sudah penuh racun dalam hati kita. Penuh dengan dendam, iri hati, kekuatiran dan stres gara-gara utang belum dibayar!
Tuhan Peduli Kesehatan Jiwa Kita
Satu hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang peduli akan kesehatan jiwa kita.
Tuhan tidak cuma peduli kita punya motor baru atau rumah dua lantai, tapi Dia peduli kita punya kedamaian di hati, tidak gampang tersinggung, dan bisa tertawa walau biaya hidup semakin besar sedangkan penghasilan malah semakin berkurang.
Kalau kita belajar Alkitab, maka disana dengan jelas menunjukkan bahwa Tuhan sangat peduli dengan kesehatan jiwa manusia.
Berikut beberapa ayat dan poin yang menunjukkan kepedulian Tuhan terhadap kesehatan jiwa:
1. Mazmur 34:19 (TB):
"TUHAN itu dekat kepada orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang yang remuk jiwanya."
Ayat ini dengan indah menggambarkan bahwa Tuhan hadir dan peduli secara khusus kepada mereka yang sedang mengalami kesedihan mendalam atau tekanan jiwa. Dia tidak menjauhi, justru mendekat dan memberikan keselamatan dan kelegaan.
2. Yesaya 41:10 (TB):
"janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan engkau, bahkan akan menolong engkau, dan akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."
Ayat ini memberikan jaminan kehadiran, kekuatan, dan pertolongan dari Tuhan di tengah rasa takut dan kebimbangan yang seringkali menjadi akar masalah kesehatan jiwa. Tuhan peduli bahkan memperhatikan akar masalah dari kesehatan jiwa. bukan hanya gejala luarnya, tapi akar masalahnya.
3. Matius 11:28-30 (TB):
"Marilah kepada-Ku, hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang2 itu enak dan beban-Ku pun ringan."
Yesus sendiri mengundang orang-orang yang merasa tertekan dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya dan menjanjikan kelegaan dan ketenangan jiwa. Ini jelas menunjukkan perhatian-Nya pada kondisi mental dan emosional kita.
Dia mengundang kita!! Maka jangan ragu datang kepadaNya saat beban hidupmu terasa begitu berat, sebab kita pasti disambutNya dengan pelukan kasihNya.
Kasih dan Empati Tuhan: Tindakan Yesus dalam menyembuhkan orang-orang yang sakit secara fisik seringkali juga disertai dengan perhatian pada kondisi emosi dan mental mereka. Contohnya, setelah menyembuhkan orang buta, Ia seringkali memberikan kata-kata penghiburan dan penguatan.
Roh Kudus sebagai Penghibur: Roh Kudus disebut sebagai Penghibur (Parakletos). Salah satu peran-Nya adalah memberikan ketenangan, penghiburan, dan kekuatan di tengah kesulitan yang bisa mempengaruhi kesehatan jiwa kita.
Jadi, jelas sekali bahwa Alkitab, melalui berbagai ayat dan kisah, menunjukkan betapa Tuhan sangat peduli dengan kesehatan jiwa kita. Dia tidak hanya memperhatikan tubuh kita, tetapi juga hati dan pikiran kita.
Oleh karena itu, kita sebagai orang percaya juga terpanggil untuk memiliki kepedulian yang sama terhadap kesehatan jiwa diri sendiri dan orang lain.
Setelah kita bisa merawat kesehatan jiwa, lalu apa?
Apa yang Tuhan inginkan setelah kita memiliki kesehatan jiwa? Apa Next Step nya??
Membantu orang lain yang sedang tidak sehat jiwanya atau sakit jiwa. Bukan gila ya!! Tapi faktanya jiwa kita itu sama seperti tubuh kita, kadang bisa sakit. Entah itu ringan ataupun berat.
Siapa yang tidak pernah sakit secara tubuh? Seumur hidup sampai sekarang tidak pernah sakit? Pasti tidak ada!! Demikianlah juga dengan jiwa kita.
Ada kalanya jiwa kita tertekan, dihinggapi ketakutan dan kekuatiran, diliputi kesedihan dan sebagainya.
Apalagi Zaman sekarang, bukan cuma tubuh yang perlu sehat, tapi juga jiwa kita. Banyak orang tampaknya baik-baik saja di luar, senyum-senyum, tapi di dalam hatinya sedang berantakan, sedang sedih, sedang hancur.
Nah, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk peduli dan menolong mereka yang lagi “nggak baik-baik saja”.
Kadang kita mikir, “Lho, saya bukan psikolog, gimana mau bantu?” Tenang... bantu orang lain nggak selalu butuh gelar sarjana, tapi butuh hati yang peduli dan telinga yang siap mendengar.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Nih, kita belajar tiga hal sederhana tapi berdampak. Dengan ketiga hal ini, diharapkan kita bisa saling merawat kesehatan jiwa kita.
Saling Merawat Kesehatan Jiwa

1. Menjadi Pendengar yang Baik
(Lukas 10:38–42)
Ingat cerita Maria dan Marta? Waktu Yesus mampir ke rumah mereka, Marta sibuk banget di dapur, masak-masak, nyiapin ini-itu. Maria? Duduk anteng dengerin Yesus. Eh, Marta protes, tapi Yesus malah bilang Maria pilih yang lebih baik.
Mungkin kelihatanya seperti Yesus menyalahkan Marta dan membela Maria..
Tapi faktanya, sebenarnya Yesus juga mendengarkan Marta. Jadi dua-duanya didengar, cuma Yesus menilai dan mengajarkan mana yang lebih penting saat itu.
Sekalipun Marta protes dan ngomel, Yesus mendengar tanpa menyela. Yesus membiarkan Marta meluapkan protes dan kekesalan hatinya. Setelah selesai, baru Yesus menanggapi.
Intinya:
Kadang orang cuma butuh tempat buat curhat, bukan langsung dikasih solusi apa lagi dihakimi. Dengerin dulu, baru kasih tanggapan kalau diminta. Jangan buru-buru nge-judge. Jadi pendengar yang tulus, kayak Yesus ke Marta.
Contoh sehari-hari:
+Ada teman yang tiba-tiba murung? Ajak ngopi, tanya kabar, dan dengarkan tanpa menyela.
+Anak lagi sedih karena nilainya jelek, dengerin dulu perasaannya, jangan langsung diomelin
+Pasangan kita lagi banyak pikiran, ya kita jadi sandaran telinga yang siap mendengarkan tanpa menghakimi
Setelah mereka selesai curhat, baru deh kita kasih tanggapan yang membangun, kayak Yesus yang memberi tanggapan kepada Marta yang ngomel. Yesus memberi ajakan dan ajaran yang lembut. Yesus memberi pengertian manakah hal yang lebih utama untuk dilakukan.
Menjadi pendengar itu mungkin seperti kita menjadi tempat penampungan sementara “sampah” dalam jiwa orang lain yang sedang bercerita dengan kita. Dengarkanlah dengan tulus.
2. Menyediakan Dukungan Emosional/Mental
(Lukas 7:36–50)
Yesus pernah diundang makan sama orang Farisi. Tiba-tiba masuk perempuan berdosa yang nangis, basahin kaki Yesus, lalu diusap pakai rambutnya dan diminyaki. SI orang Farisi langsung nyinyir, “ihh, najis!! Kok Yesus mau dekat-dekat sama orang kayak gitu?” Mereka Nge-judge perempuan itu habis-habisan.
Tapi lihat Yesus? Dia justru ngerti banget isi hati perempuan itu, dia ngampunin dan kasih solusi.
Ada sebuah cerita:
Ada ibu-ibu yang curhat ke pendeta, “Pak, saya merasa nggak layak datang ke gereja, dosa saya banyak.”
Pak pendeta jawab, “Ya bagus, Ibu cocok! Gereja memang isinya orang berdosa, gereja isinya bukan malaikat, tapi orang berdosa yang mau bertobat.
jangan pernah memandang gereja sebagai tempat berkumpulnya para malaikat, tetapi gereja adalah tempat pembentukan dan pertobatan orang berdosa.
Oleh karena itu, jika ada orang yang masih hidup dalam dosanya datang ke Gereja, jangan dinyinyirin, tetapi sambut dengan sukacita. Dengarkan keluh kesahnya, bimbing dan bantu untuk mengalami perubahan hidup, tanpa menghakimi dosa-dosanya. Berikan dukungan secara emosional.
Pelajaran Bagi Kita:
Jangan buru-buru menghakimi orang yang sedang jatuh. Kadang mereka cuma butuh didengar dan diyakinkan kalau mereka tetap berharga. Bukan nyinyiran, tapi empati.
Contoh sehari-hari:
Kalau ada teman yang ngalamin kegagalan—di-PHK, gagal diterima kerja—jangan langsung bilang, “Makanya kemarin jangan malas.” Tapi tepuk bahunya dan bilang, “Aku tahu ini berat, tapi kamu nggak sendirian, yuk sama-sama kita berdoa. nanti saya bantu carikan lowongan pekerjaan buat kamu.
Ada saudara yang lagi kena musibah, jangan malah ngomong, “mungkin itu teguran, jarang ke gereja sih, gak mau pelayanan ya begitu. TAPI tunjukkan kepedulian kita, tawarkan bantuan
Di komunitas kita, kalau ada yang lagi down, kita rangkul, kita kuatin. Jangan malah digosipin.
Memang terkadang, di mata orang yang gak ngerti, masalah kita mungkin hanya akan jadi bahan tertawaan. Oleh karena itu, penting sekali untuk memilih orang yang tepat buat berbagi. lebih penting lagi berusahalah juga menjadi orang yang tepat itu.
Dan yang paling penting adalah sekalipun dimata orang masalah kita hanya menjadi bahan pergunjingan, namun dimata Yesus, semua masalah kita itu penting dan Dia pasti mendengarkan kita dan kasih jalan keluar bagi kita.
3. Memberi Dukungan Komunitas
(Markus 2:1–12)
Ada orang lumpuh yang pengen ketemu Yesus, tapi nggak bisa jalan. Untung dia punya empat teman yang kompak. Mereka gotong dia, bongkar atap rumah orang, dan turunin dia ke depan Yesus. Hebat, kan solideritasnya?
Yesus lihat iman mereka—bukan cuma si lumpuh, tapi juga temannya!
Cerita lucu:
Bayangin kalau keempat temannya gitu:
Teman 1: “Ayo kita bawa dia ke Yesus!”
Teman 2: “Nanti aja, lagi panas.”
Teman 3: “Orang banyak banget gitu mau lewat mana??.”
Teman 4: “Eh, bentar tak cekout shopee dulu mumpung ada promo.”
Kalau kayak gitu mah nggak bakal nyampe!
Untuk merawat kesehatan jiwa kita perlu memiliki komunitas yang sehat dan bisa saling menopang, mengingatkan dan menguatkan kita disaat kita lemah.
Intinya:
Kita butuh komunitas yang saling topang melalui aksi nyata, bukan cuma omon-omon doang. wi wok de tok, not onli tok de tok. jadilah bagian dari komunitas yang hadir waktu orang lain mengalami susah.
Contoh sehari-hari:
Kalau tahu ada anggota persekutuan yang nggak muncul-muncul, jangan cuma bilang “Oh, dia sibuk.” Tapi coba tanya kabarnya, kunjungi, doakan, dan hadir buat dia.
Penutup
Merawat kesehatan jiwa itu bukan tugas dokter aja. Kita semua dipanggil untuk jadi pendengar, penyemangat, dan teman seperjalanan satu dengan yang lainnya.
Mulailah dari hal kecil:
Dengarkan orang tanpa menyela.
Jangan langsung menilai, tapi berempati.
Bangun komunitas yang saling dukung.
Karena kadang, yang dibutuhkan bukan solusi... tapi perhatian, senyum, dan kata yang membangun
Jadi mari rawat kesehatan jiwa kita, agar kita juga bisa saling merawat kesehatan jiwa satu dengan yang lain, Tuhan saja begitu peduli akan kesehatan jiwa kita, masa kita sendiri tidak? Amin..
Posting Komentar untuk "MERAWAT KESEHATAN JIWA"