Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Renungan Kemerdekaan: Hati yang Merdeka

Kemerdekaan sering diartikan sebagai kebebasan atau kelepasan. Dalam lingkup sebuah Negara kemerdekaan diartikan sebagai keadaan dimana suatu Negara mendapatkan hak penuh untuk mengendalikan seluruh wilayahnya. Dengan pengertian tersebut maka bangsa Indonesia memang sudah bisa disebut sebagai Negara yang merdeka. Namun yang perlu kita renungkan sebagai sebuah individu atau pribadi adalah apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Secara fisik mungkin kita sudah merdeka, kita bukanlah orang yang terbelenggu atau terikat secara fisik. Namun kemerdekaan sejati sebagai mahluk ciptaan Tuhan bukanlah sekedar urusan fisik, namun kemerdekaan manusia sejatinya juga berbicara soal hati. Jika secara fisik seseorang tidak terikat namun hatinya terikat dan terbelenggu oleh hal-hal yang negatif  dan jahat, maka sebenarnya orang tersebut belum sepenuhnya merdeka.

Hari ini ada kisah menarik yang dialami oleh seorang teman dan dia bagikan di media sosial. Sebuah kisah yang merefleksikan kemerdekaan yang sesungguhnya. Sebut saja teman itu dengan nama Budi. Pagi hari Budi pergi ke sebuah warung makan untuk sarapan pagi. Perutnya sudah terasa lapar dan segera ingin diisi dengan makanan enak dan hangat maka dia pun segera memesan makanan dengan menu favoritnya.

Budi memilih duduk dibangku yang dekat dinding sehingga dia bisa melihat ke arah jalan dan juga dapat melihat seluruh pengunjung warung makan tersebut yang sedang asyik sarapan dengan menu makanan mereka masing-masing. Tidak beberapa lama, makanan yang dipesanpun datang. Setelah berdoa Budi pun mulai menikmati makanan tersebut.

Ditengah nikmatnya sarapan pagi yang terasa lebih nikmat lagi karena rasa lapar diperutnya, tiba-tiba datang pengunjung menggunakan mobil cukup mewah. Dari mobil tersebut turunlah satu keluarga. Pasangan suami istri beserta dengan anaknya yang masih balita. Bersama mereka ikut pula seorang wanita separuh baya dengan seragam asisten rumah tangga. 

Mereka duduk dibangku tepat di depan Budi. Kemudian segera mereka memesan makanan kepada pelayan warung makan tersebut. Budi melihat kearah mereka sambil terus menikmati makanan yang ada dihadapannya. Dalam hatinya dia melihat sebuah kejanggalan, namun dia menunggu apa yang akan terjadi. Budi tidak mau terburu-buru berprasangka yang tidak-tidak.

Sampai tiba waktunya pelayan warung tersebut mengantar pesanan untuk keluarga yang baru datang tersebut. Budi terus memperhatikan mereka untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak. Ketika keluarga tersebut mulai menikmati makanan yang sudah dipesan mereka, tiba-tiba Budi menghentikan makannya dan dia merasa tidak ada lagi nafsu makan untuk menghabiskan makanannya.

Apa yang dilihatnya benar-benar seperti dugaannya. Pemandangan didepannya sungguh membuat hatinya sedih dan marah, namun dia tidak sanggup berbuat apa-apa. Pagi itu sarapan nikmatnya harus terganggu dengan kegundahan hatinya yang tidak menentu.

Budi melihat dengan matanya sendiri, dimana pasangan suami istri tersebut beserta anak mereka makan dengan lahapnya, sedangkan sang asisten rumah tangga duduk satu meja dengan mereka namun tidak makan apa-apa. Tidak ada makanan atau minuman yang dipesankan untuknya. Dia hanya memandang keluarga tuan dan nyonyanya menikmati makanan itu dengan nikmatnya.

Budi hanya dapat bergumam dalam hatinya, betapa teganya sang Tuan dan Nyonyanya memperlakukan asisten rumah tangganya tersebut. Tidakah perkara yang mudah dan ringan untuk menawarkan makanan untuk dinikmati juga oleh asisten rumah tangga tersebut. Atau paling tidak minum, sekedar teh tawar hangat untuk teman sepi menanti Tuan dan Nyonya sarapan pagi. Dalam hatinya Budi ingin menawarkan makanan atau minuman kepada sang asisten rumah tangga tersebut, namun dia juga tidak mau menyinggung dan membuat malu serta marah sang Tuan dan Nyonya.

Budi hanya membuat catatan kecil dihatinya, bahwa di hari kemerdekaan ini ternyata masih ada hati yang belum merdeka. Hati yang masih terbelenggu dengan perbedaan status sosial sehingga melupakan kasih terhadap sesama manusia. Hati yang sering lupa bahwa wanita paruh baya tersebut bukan sekadar asisten rumah tangga, namun adalah patner kerja yang meringankan pekerjaan Tuan dan Nyonya.

Bagaimana dengan hati kita sobat? Adakah hati kita sudah merdeka? Merdeka dari keegoisan, merdeka dari keserakahan, merdeka dari iri hati, merdeka dari belenggu-belenggu jahat yang membuat kita menjadi pribadi yang tidak baik? Selamat merenungkan arti kemerdekaan sesungguhnya dan milikilah hati yang merdeka.


Posting Komentar untuk "Renungan Kemerdekaan: Hati yang Merdeka"