Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karakter Murid Kristus

Memiliki karakter murid Kristus akan membuat hidup kita menjadi alat kemuliaan Tuhan. Percuma bila kita pandai melayani, punya banyak talenta, tetapi karakter kita jahat dan tidak mencerminkan Kristus.


2 Korintus 3:18 (TB)  Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.

Kita belajar untuk dapat memiliki karakter murid Tuhan agar hidup kita bisa mencerminkan kemuliaan Tuhan.

Berapa banyak orang yang memiliki kelebihan baik kepandaian, jabatan, kekayaan namun karakternya tidak baik. Pada akhirnya kelebihannya hanya digunakan untuk kejahatan.
Dari situ kita belajar pentingnya sebuah karakter karena akan menentukan seperti apa kita berperilaku dan berperan dalam dunia ini.

Apa itu Karakter?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter merupakan sifat kejiwaan, tabiat, akhlak atau budi pekerti seseorang yang membedakan seorang individu dengan individu lainnya.

Artinya setiap manusia memiliki karakternya masing-masing yang berbeda-beda. Bahkan anak kembar sekalipun memiliki karakter yang berbeda. Contoh dalam Alkitab itu Esau dan Yakub.

Esau lebih suka berburu, sedang Yakub orang lebih suka dirumah. Oleh sebab itu, dalam keluarga dan masyarakat kita perlu memahami bahwa karakter masing-masing orang itu berbeda. Jangan paksakan seseorang untuk sama dengan apa yang kita mau karena setiap orang itu berbeda.

Mengapa karakter setiap orang berbeda? Hal ini terjadi karena karakter itu bukanlah sifat bawaan dari lahir, tetapi dibentuk dari berbagai macam hal dalam hidup seseorang.

Bagaimana Karakter itu dibentuk?

Menurut para ahli, karakter seseorang bukanlah suatu bawan dari lahir, akan tetapi dibentuk secara pelan-pelan dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, orang sekitar ataupun keluarga.

Karakter itu berbeda dengan temperamen. Temperamen itu sifat dasar manusia yang diwariskan dari orangtua. Ada faktor genetik yang mempengaruhi terbentuknya temperamen manusia, seperti perpaduan hormon dari orangtua dan sebagainya.

Karena karakter bukanlah sifat bawaan dari lahir, maka karakter seseorang itu bisa diubahkan asal seseorang tersebut menyadari dan mau berusaha mengubah karakternya menjadi lebih baik.

Bulan ini kita akan banyak belajar mengenai bagaimana agar karakter kita itu menjadi karakter murid Kristus.

Karakter Murid Kristus

Konsep Guru dan Murid sudah ada sejak dari zaman dahulu. Konsep pemuridan tidak seperti zaman sekarang. Dulu seorang murid akan selalu bersama gurunya sehingga karakter antara guru dan murid akan semakin mirip.

Sekarang yang paling mendekati mungkin adalah sekolah yang mengharuskan siswanya hidup diasrama bersama gurunya. Contoh di Filadelfia Kalimantan Barat

Cara agar memiliki karakter murid Kristus

1. Miliki Hubungan Yang Karib Dengan Tuhan


Ingat bahwa karakter seseorang akan sangat dipengaruhi oleh dengan siapa dia bergaul dan bagaimana lingkungan tempat dia berada.

Semakin kita dekat dengan Kristus maka karakter kita akan semakin serupa dengan karakter Kristus

Yesus memberikan contoh teladan dalam membentuk karakternya

Yesus ketika menjadi manusia juga perlu membentuk karakternya agar seperti Bapa. Oleh sebab itulah Dia selalu mendekat kepada Bapa dalam doa.

Markus 1:35 (TB)  Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

Matius 14:23
Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

Lukas 6:12
Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.

Lukas 9:28-29 (TB)  Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa.
Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan.

1 Korintus 15:33 (TB)  Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

Bayangkan jika kita terus bergaul dengan Tuhan, maka karakter Kristus itu akan semakin nyata dalam diri kita. Lama kelamaan kita menjadi seperti Kristus

2. Menyadari Merubah Karakter Berarti Melawan Diri Sendiri


Kita sudah belajar bahwa karakter itu terbentuk dari respon kita terhadap segala hal yang terjadi dalam diri kita

Musuh terbesar dalam hidup kita adalah diri kita sendiri. Terkadang kita tidak mau berubah karena kita merasa tidak mau, tidak mampu atau tidak merasa perlu untuk berubah.

Roma 7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

Enam bulan sudah Jenny berusaha menjalani kehidupan barunya sebagai anak Tuhan. Ia mulai belajar menjadi jemaat yang aktif di sebuah gereja di Surabaya. Rasa haus dan lapar akan Tuhan membuat ia tidak jemu-jemu merenungkan firman Tuhan setiap hari.

Jenny sangat ingin menjadi anak yang berkenan dan taat kepada Tuhan. Ia pun mengambil komitmen untuk menjaga hidup dalam kekudusan. Pada suatu pagi, ketika ia sedang mendengarkan video kotbah melalui handphone, kakaknya tiba-tiba berkata, “Dik kakak pinjam handphone sebentar dong?” Jenny yang merasa tanggung dan fokus tidak menghiraukan permintaan kakaknya.

Ternyata hal tersebut membuat kakaknya geram. Sindiran demi sindiran terus dilontarkan kepada Jenny. Jenny mulai merasa terganggu hingga  tiba-tiba lepas kendali dan bertengkar hebat dengan kakaknya. Sore harinya ia merenung dan menyadari, betapa buruk sikapnya. Ia begitu egois dan mudah terpancing emosi. Jenny menjadi sangat sedih.

Ia sudah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, namun nyatanya semakin ia berjuang untuk menjaga dirinya dari perbuatan dosa, ia justru menemukan dirinya semakin mengeluarkan sifat-sifat buruk yang pada akhirnya membuat ia sangat kecewa dengan dirinya sendiri.

Mungkin sebagian dari kita juga memiliki pergumulan seperti kisah diatas. Ketika kita rindu menjadi dewasa, menjadi berkat bagi orang lain, tetapi kita justru menemukan diri kita begitu egois, mudah marah, sulit untuk menerima masukan, mudah tersinggung bahkan oleh persoalan kecil sekalipun.

Dari kisah tersebut, kita dapat belajar bahwa tantangan atau peperangan terbesar dan tersulit yang perlu kita waspadai justru bukanlah mengalahkan iblis ataupun dunia ini, akan tetapi melawan diri kita sendiri. Hati yang terluka yang belum dipulihkan seringkali menjadi sasaran iblis yang akan membuat kita merusak diri sendiri.

Itu sebabnya penting sekali bagi kita untuk membereskan hati kita terlebih dahulu, karena dari situlah penentu kemana arah hidup kita. Apakah hidup kita akan memancarkan kehidupan atau sebaliknya.

Mari bebaskanlah hati kita dari semua kecewa ataupun sakit hati, sehingga kita memiliki kemerdekaan. Dengan demikian kita dapat mengatasi diri kita sendiri dari tabiat-tabiat yang negatif, dan memiliki kemerdekaan yang sejati.

Jika kita ingin memiliki karakter murid Kristus atau karakter seperti Kristus, maka mendekatlah dengan Kristus agar karakternya menular ke hidup kita dan sadari bahwa ini membutuhkan proses seumur hidup dimana lawan terberatnya adalah diri kita sendiri

Melawan malas, suka marah, suka berprasangka buruk itu sama dengan melawan diri sendiri, jika kita menang maka tanpa kita sadari kita sudah berubah menjadi manusia yang sama sekali baru, orang akan melihat kita berubah dan berujung pada kemuliaan nama Tuhan, sebab yang mereka lihat bukan lagi kita melainkan Kristus.

Posting Komentar untuk "Karakter Murid Kristus "