Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bebas dari iri hati dan kepahitan

Memiliki hati yang bersih berarti hati kita bebas dari kotoran dan sampah. Untuk memiliki hati yang bersih memang perlu effort dan usaha yang lebih karena menjaga hati tetap bersih itu berbicara kedalam bukan keluar.

Melihat kedalam diri sendiri terkadang menjadi sebuah persoalan tersendiri bagi sebagian orang atau manusia secara umum. Kecenderungan manusia lebih mudah melihat dan menilai orang lain dibandingkan dengan menilai diri sendiri. Alkitab sendiri sudah mengingatkan kita.


Matius 7:3-4 (TB)  Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.


Ayat tersebut dengan jelas menggambarkan betapa sulitnya bagi manusia untuk menilai diri sendiri, terutama jika berhubungan dengan kekurangan atau kesalahan diri sendiri.


Ketidakmampuan manusia untuk menilik kedalam hatinya sendiri secara fair dan objektif inilah yang kerapkali membuat hatinya disusupi kotoran yang kemudian menjadi penyakit hati. Dimana hal itu akan termanifestasi dalam berbagai sikap dan karakter hidup seseorang.


Salah satu yang paling sering dan mudah masuk kedalam hati manusia adalah iri hati dan kepahitan. Iri hati seringkali menjadi awal atau akar dari kepahitan. Kepahitan memang tidak hanya disebabkan oleh iri hati, bisa dari kekecewaan atau kekuatiran. Namun iri hati menjadi faktor yang paling sering menjadi akar kepahitan.


3 Penyebab Orang Bisa Memiliki Sikap Iri Hati

Iri hati → muncul ketika seseorang 


  1. merasa kurang, 

  2. merasa tersaingi (melihat orang yang dulu “dibawah” kita sekarang sejajar atau lebih 

  3. tidak tahan melihat orang lain diberkati/lebih maju. (ada semacam perasaan tidak nyaman)


Iri hati yang tidak diolah → berubah menjadi benci.

Benci yang dipendam → berkembang menjadi kepahitan.


Jadi  Iri → benci → pahit adalah progres yang umum terjadi dalam hati manusia.


Karena itu dalam Ibrani 12:15, akar pahit bisa “tumbuh” jika tidak dibereskan—dan akar pahit itu sering dimulai dari perasaan iri.


Ibrani 12:15 Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.


Cara mengolah iri hati adalah dengan mengakuinya dan membereskannya dihadapan Tuhan.


Kisah Kain–Habel serta Saul–Daud adalah contoh iri hati dan kepahitan

KAIN – HABEL (Kejadian 4)

  • Iri: Kain iri karena persembahan Habel diterima, miliknya tidak. Fokusnya bukan pada kualitas persembahannya, tetapi pada “mengapa punya Habel lebih dihargai”. Merasa tersaingi
    (tidak mencoba untuk instrospeksi diri)

  • Benci: Ia marah besar. Kain membiarkan amarahnya menetap.
    Tuhan sudah memperingatkan: “Mengapa hatimu panas? dosa mengintip… engkau harus berkuasa atasnya.”

  • Pahit: Ia membunuh saudaranya. Kain membiarkan rasa iri berkembang → menjadi benci →kepahitan dan kemudian membunuh Habel.

Iri hati yang tidak dibereskan → dosa menguasai → tindakan destruktif.


SAUL – DAUD (1 Samuel 18–24)

  • Iri: Saul iri ketika rakyat menyanyikan “Saul mengalahkan beribu-ribu, Daud berpuluh-puluh ribu.”

  • Benci: Saul mulai memandang Daud dengan curiga. Kemudian muncul kebencian yang makin mengeras setiap kali Daud berhasil.

  • Pahit: Saul mengejar Daud bertahun-tahun, ingin membunuhnya.

Saul tidak tahan melihat Daud diangkat Tuhan. Iri → kepahitan → kehancuran diri sendiri.

Iri memicu ketakutan, lalu kepahitan memicu keinginan menghancurkan.

KESIMPULAN

Kepahitan muncul ketika rasa iri tidak diakui atau tidak diolah. Akhirnya merusak hubungan, karakter, dan keputusan.

Maka berhati-hatilah jika kita mulai merasa iri hati yang ditandai dengan mersa kurang, merasa tersaingi atau merasa tidak nyaman saat orang lain diberkati atau maju.

Segera akui itu dan olah menjadi hal yang positif menjadi motivasi atau dorongan untuk maju dan berkembang.

Kiranya kita senantiasa dapat menjaga hati kita dengan penuh kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan, amin.



Posting Komentar untuk " Bebas dari iri hati dan kepahitan "