Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pandangan Alkitab Tentang Bekerja

Jika ditanya apa tujuan kita bekerja? Sebagian dari kita mungkin menjawab bahwa kita bekerja itu ya untuk mendapatkan uang dan itu tidak salah.

Namun jika kita belajar lebih dalam tentang bekerja dalam pandangan Alkitab, kita akan mengerti bahwa bekerja itu bukan semata-mata untuk mencari uang. Jika fokus kita dalam bekerja hanya untuk mencari uang, maka kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk berdampak melalui pekerjaan kita.

Banyak orang percaya terjebak dalam pemisahan antara bekerja dan melayani Tuhan. Bekerja dan kehidupan rohani seperti penyembahan kepada Tuhan atau beribadah dipandang sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda atau terpisah dengan pekerjaan. Pandangan ini tentu sama sekali tidak benar dan perlu diluruskan, karena justru dalam pekerjaan kita itulah kita beribadah, menyembah Tuhan dan melayani Tuhan.

Sore ini kita akan belajar pandangan Alkitab tentang bekerja, sehingga dengan memahami hal ini maka kita bisa menjadi seseorang yang berdampak melalui pekerjaan kita apapun itu. (kerja adalah aktivitas yang kita lakukan setiap hari dimana kita melakukan peran kita dalam kehidupan dan itu tidak selalu berarti menghasilkan uang)

Ayo, saya mau tanya:

Siapa tokoh Alkitab yang pertama kali bekerja?

Jawaban jemaat mungkin: Nuh? Daud? Musa?

Jawab:
👉 Allah sendiri!
Pada hari pertama hingga keenam, Dia bekerja menciptakan dunia.

1. BEKERJA ADALAH RANCANGAN ALLAH BUKAN AKIBAT DOSA

Bapak-Ibu, sering kali kita berpikir bahwa kerja itu akibat dosa. Padahal, sebelum manusia jatuh dalam dosa, Tuhan sudah menyuruh Adam mengusahakan dan memelihara taman (Kejadian 2:15). Jadi, kerja itu rencana Tuhan.

📖 Kejadian 2:15 – “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan sudah memberikan pekerjaan. Artinya, bekerja adalah bagian dari panggilan ilahi, bukan kutukan.

  • Adam bekerja bukan karena ia berdosa, tapi karena itu cara ia menyalurkan gambar dan rupa Allah.

  • Allah sendiri adalah Allah yang bekerja — mencipta, memelihara, menata. Maka saat kita bekerja, kita sedang meniru sifat Allah (imago Dei).

👉 Jadi, bekerja adalah bagian dari rancangan Tuhan bagi manusia sejak semula. Manusia didesain untuk bekerja dan bekerja adalah sesuatu yang mulia

Lalu bagaimana dengan Kejadian 3:17-19 yang seringkali kita berpikir bahwa kerja itu adalah akibat kejatuhan manusia dalam dosa?

Kejadian 3:17-19

17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:

18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;

19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

saat manusia berdosa, yang Tuhan katakan bukan,

“Terkutuklah engkau…”

tetapi,

“Terkutuklah tanah karena engkau…” (Kejadian 3:17)

Artinya:

Bukan kerjanya yang dikutuk, Tapi tanah dan lingkungan sekitarnya menjadi susah untuk dikerjakan

Sebelum jatuh dalam dosa, tanah itu responsive dan menghasilkan yang terbaik, namun setelah dosa tanah “melawan” dengan menghasilkan semak duri

·  Tanah = tempat kita bekerja/beraktivitas

Saat ini bentuk “tanah” bisa berupa kantor, toko, pasar, dapur, usaha online, bahkan rumah sendiri (bagi ibu rumah tangga)

Di situlah kita “mengambil rezeki”.

Tanah = tempat kita bekerja
Duri dan semak = tantangan & orang-orang yang bikin pusing 😅
Susah payah = perasaan letih & frustrasi

Kerja bukan kutuk,
tapi beratnya kerja adalah akibat dosa.

Karena dosa, muncullah:

·        capek luar biasa,

·        kadang hasil sedikit,

·        usaha tidak selalu lancar,

·        semak duri, hambatan, dan kekecewaan.

Jadi:
👉 Kerja tetap mulia
👉 Yang membuat kerja sering berat adalah dampak dosa

Tetapi ada kabar baik!

Dalam Tuhan:
✅ kerja bisa diberkati
✅ kerja punya makna
✅ kerja bisa membawa sukacita
✅ kerja bisa jadi kesaksian

Yesus menebus bukan hanya jiwa, tetapi juga makna hidup, termasuk makna bekerja.

ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus,
Dia memulihkan:

·        sikap hati kita saat bekerja,

·        memberi sukacita,

·        mengembalikan makna bekerja sebagai bagian dari rancangan Allah atas manusia

Karena itu, mulai hari ini, mari bekerja:
✔ bukan dengan mengeluh,
✔ tapi dengan bersyukur,
✔ bukan hanya untuk uang,
✔ tapi untuk memuliakan Allah.

Kerja bukan kutuk.
Kerja adalah panggilan Tuhan.

Tokoh Alkitab: Adam

Adam diberikan tugas mengelola taman sebelum berdosa, sebelum menikah, sebelum punya anak.
Jadi bekerja = sifat asli manusia! Rancangan Allah atas manusia

        Aplikasi: Memahami bahwa bekerja adalah rancangan Allah bagi manusia akan membuat kita melakukan pekerjaan kita bukan sebagai sebuah beban (kutukan), namun sebagai sebuah kesadaran akan panggilan Tuhan untuk menjadi serupa dengan dia (Imago Dei).

Disaat orang lain banyak bersungut-sungut tentang pekerjaan mereka, kita orang percaya justru bersikap sebaliknya. Memberi teladan ucapan syukur atas pekerjaan yang kita jalani sekecil apapun peran dan pekerjaan kita.

Disaat yang lain mengeluh capek bekerja, kita justru menikmati lelahnya bekerja dengan penuh sukacita dan ucapan syukur, maka disitulah hidup kita akan berdampak!!

2. BEKERJA ADALAH IBADAH DAN PELAYANAN

📖 Kolose 3:23-24
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Ayat ini sangat penting. Paulus menulis kepada orang-orang yang sebagian besar adalah budak (pekerja kasar) pada zamannya. Tetapi ia menegaskan:

Nilai pekerjaanmu bukan ditentukan oleh apa jenis pekerjaanmu, tetapi oleh Bagaimana dan untuk siapa kamu bekerja.

Bekerja adalah Ibadah (Avodah)

“Banyak orang pikir ibadah itu cuma di gereja hari Minggu.
Tapi begitu pulang… gosip, marah, ngerutu lagi.
Jadi ‘ibadah’-nya tinggal 2 jam, sisanya ‘Nge-gibah’ (ibrani: hilang)!”

Menariknya, bahwa bekerja, ibadah dan melayani dalam Alkitab Perjanjian Lama itu menggunakan satu kata yang sama yakni “Avodah”

Kata Ibrani ʿăvōdāh / avodah (עֲבוֹדָה) memang bisa berarti bekerja, dan pada saat yang sama juga bisa berarti melayani dan beribadah.

Dengan kata lain:

  • Seorang pedagang yang melayani pembeli dengan jujur sebenarnya sedang melayani Tuhan.

  • Seorang ibu rumah tangga yang merawat keluarganya dengan kasih juga sedang melayani Tuhan.

  • Seorang pegawai yang bekerja dengan sungguh-sungguh, meski tak dipuji, tetap melayani Tuhan karena ia bekerja untuk-Nya.

👉 Jadi, bekerja bukan sekadar mencari uang, tapi bentuk ibadah dan pelayanan rohani di dunia sekuler.


Kenapa 1 kata bisa punya 3 makna?

Karena dalam konsep Alkitab:

·        Bekerja

·        beribadah

·        melayani

tidak dipisahkan seperti zaman modern.

Bagi orang Ibrani:

Bekerja dengan taat kepada Tuhan adalah tindakan ibadah.

Itu sebabnya iman Kristen tidak mengenal pembagian:

·        pekerjaan “rohani”

·        pekerjaan “sekuler”

Semua bisa rohani jika dilakukan bagi Tuhan.

Aplikasi: jika kita memahami prinsip ini, maka kita akan melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan, maka hasilnya kita akan bisa berdampak buat orang lain dilingkungan pekerjaan kita.

Tokoh Alkitab: Yusuf
Yusuf bekerja sebagai:

·        budak

·        kepala rumah Potifar

·        narapidana

·        tangan kanan Firaun

Di semua tempat, dia bekerja seolah-olah untuk Tuhan.
Hasilnya? Tuhan meninggikan dia.

Pelajaran:
Posisi bisa berubah, tapi sikap rohani tetap sama

3. Bekerja adalah kesempatan menjadi kesaksian

📖 Matius 5:16 – “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di sorga.”

Tempat kerja (atau aktivitas kita sehari-hari) adalah panggung kesaksian kita. Fakta menyebutkan bahwa rata-rata 90.000 jam kehidupan manusia itu dihabiskan ditempat kerja atau dalam aktivitas kita sehari-hari.

Angka itu menunjukkan:

👉 kerja menyita hampir hidup produktif kita
👉 kerja bukan hal sepele
👉 karena itu Alkitab menekankan etika kerja

·  Kita habiskan hidup untuk kerja

·  Sayang kalau cuma stress

·  Persembahkan itu buat Tuhan

·  Biar 90.000 jam di bumi jadi investasi kekal


Sering kali orang mengenal Tuhan bukan lewat perkataan kita, tapi mereka akan melihat bagaimana kita bekerja, bersikap, dan berinteraksi dengan mereka.

Contoh nyata:

  • Kejujuran seorang pedagang bisa menjadi kesaksian lebih kuat daripada seribu kata.

  • Ketekunan seorang ibu rumah tangga bisa menular dan menginspirasi tetangga.

  • Etos kerja seorang karyawan bisa menginsprasi rekan kerjanya

👉 Dunia melihat Kristus bukan hanya lewat perkataan kita, tapi lewat perbuatan dan etika kerja kita.

Fakta menarik dunia kerja:
Menurut studi, pelanggan lebih ingat sikap penjual dibanding harga barangnya.

Sikap itulah kesaksian yang Yesus inginkan, sebab sikap itu berbicara lebih kuat dari sekedar kata-kata Mutiara kita.

Saya percaya di surga nanti ada banyak pedagang dari desa ini…
Karena pedagang itu ahli senyum.

Kalau pelanggan tanya lima kali:

“Ini harganya berapa?”

Pedagang kita tetap jawab sambil tersenyum 😊
Padahal dalam hati bilang:

“Beli nggak beli, jangan tanya terus!”

(Ketawa)

Tokoh Alkitab: Daniel
Daniel bekerja di pemerintahan Babel dan Persia — lingkungan kafir!
Tapi dia:

  • jujur

  • disiplin

  • tidak mau sogok

  • punya integritas

Hasilnya?
Pemimpin kafir berkata, "Tidak ada satu kesalahan pun pada Daniel."

Pelajarannya:
Dunia menghormati integritas kita bukan gelar kita bukan pekerjaan kita, tetapi sikap kita dalam bekerja dan dalam aktivitas keseharian kita itulah yang dilihat orang.

Aplikasi pribadi

Tanyanya sederhana:

1. Apakah saya bekerja dengan berat hati karena merasa pekerjaan adalah beban bahkan kutukan atau dengan sukacita karena tahu bahwa bekerja adalah panggilan untuk menjadi serupa dengan Tuhan?

2. Apakah saya bekerja dengan hati untuk Tuhan karena menyadari bahwa bekerja adalah bentuk ibadah dan penyembahan kita kepada Tuhan?

3. Apakah sikap saya sudah menjadi kesaksian sebab sikap kita akan berbicara lebih banyak dari sekedar kata-kata kita?


Penutup

“Mari kita berdoa agar Tuhan mengajari kita bekerja dengan hati yang benar. Bukan hanya cari uang, tapi untuk memuliakan Tuhan. Biarlah Tuhan menjadikan kita terang di pasar, di rumah, di tempat usaha, dan dimanapun kami berada.

Kiranya Tuhan memberkati yang bekerja, melindungi yang berusaha, mengkuatkan yang sedang tidak bekerja. Mari kita serahkan hidup kita untuk menjadi alat-Nya. Amin.”

Posting Komentar untuk "Pandangan Alkitab Tentang Bekerja"