Mewaspadai Keserakahan
Kali ini kita berbicara mengenai “Mewaspadai Keserakahan”. Kata “mewaspadai” disini menunjukan bahwa keserakahan itu merupakan sesuatu yang berbahaya dan bisa menimbulkan masalah atau hal yang tidak baik. Karena sesuatu yang kita waspadai pasti adalah sesuatu yang bisa berdampak buruk bagi kita.
misal: mewaspadai jalan licin saat hujan, mewaspadai penipuan online, dsb
Apa itu keserakahan dan mengapa kita perlu mewaspadainya?
Dalam pandangan Alkitab, keserakahan (atau dalam bahasa Ibrani: batsa, Yunani: pleonexia) adalah keinginan yang tidak terkendali untuk memiliki lebih banyak dari yang dibutuhkan atau pantas dimiliki, terutama hal-hal duniawi seperti uang, harta, kekuasaan, atau kenikmatan.
Namun secara sederhana, keserakahan bisa diartikan sebagai “ketiadaan rasa cukup.
1. Keserakahan = Ketika “cukup” tidak pernah cukup
Keserakahan sering dianggap masalah orang kaya, padahal kenyataannya bisa menimpa siapa pun — bahkan orang sederhana.
Karena akar keserakahan bukan di dompet, tapi di hati yang tidak pernah merasa cukup.
Jadi akar keserakahan bukan di jumlah kepemilikan, melainkan di kekosongan hati.
2. Alkitab menegaskan hal ini
“Jika seseorang mencintai uang, ia tidak akan puas dengan uang; dan siapa mencintai kekayaan, tidak akan puas dengan penghasilannya.” — Pengkhotbah 5:9
Ayat ini tidak sedang mempersoalkan uang, kekayaan maupun penghasilan, namun kepada rasa puas atau rasa cukup dalam batin manusia.
Ayat ini menunjukkan: tidak ada jumlah yang bisa memuaskan hati yang tidak pernah cukup.
Rasa puas bukan datang dari peningkatan harta, tapi dari kecukupan batin yang berakar pada Tuhan.
3. Lawan dari keserakahan adalah rasa cukup (contentment)
Paulus menulis:
“Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” — Filipi 4:11
Artinya, rasa cukup bukan bawaan, tapi hasil pembelajaran rohani.
Kita belajar mempercayai bahwa apa yang Tuhan berikan hari ini — cukup untuk menjalani hari ini.
Inilah kebalikan dari keserakahan: hati yang damai karena percaya pada pemeliharaan Tuhan.
Paulus berkata ia belajar mencukupkan diri.
Artinya, rasa cukup adalah proses spiritual — kita belajar bersyukur, percaya, dan tidak membandingkan diri.
Setiap kali kita bersyukur, kita sedang menutup pintu bagi keserakahan.
4. Keserakahan membuat gelisah, rasa cukup membawa damai
Keserakahan membuat kita membandingkan, iri, takut kehilangan.
Tapi rasa cukup melahirkan syukur, damai, dan sukacita sejati.
“Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” — 1 Timotius 6:8
Kesimpulan singkat:
Keserakahan = ketiadaan rasa cukup.
Rasa cukup = bukti percaya bahwa Tuhan cukup.
Jadi, semakin kita yakin bahwa Tuhan memelihara, semakin kecil ruang keserakahan dalam hati.
Rasa cukup bukan berarti menyerah — tapi percaya bahwa Tuhan tahu berapa banyak yang cukup bagi kita hari ini.
Rasa cukup bukan berarti tidak punya mimpi, tapi tahu kapan harus berhenti mengejar dunia dan mulai bersyukur dengan apa yang ada.
Bukan berarti pasrah, tapi percaya bahwa apa yang Tuhan beri — cukup untuk saat ini.
“Keserakahan berkata: aku kurang. Rasa cukup berkata: Tuhan sudah lebih dari cukup.”

1. Keserakahan bikin otak “haus” seperti kecanduan
Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa saat seseorang mendapatkan uang atau barang baru, otak melepaskan dopamin — hormon yang memberi rasa senang.
Masalahnya, efek itu cepat hilang, dan orang jadi ingin lebih dan lebih lagi.
Sama seperti orang yang kecanduan, kepuasan dari harta tidak pernah bertahan lama.
(Sumber: University of London, 2016 – “The Neuroscience of Greed”)
2. Dosa pertama di dunia lahir dari keserakahan
Hawa sudah punya semua buah di taman, tapi masih ingin satu yang dilarang (Kejadian 3).
Keserakahan membuat manusia tidak menghargai apa yang sudah cukup.
Dari sanalah dosa dan penderitaan masuk ke dunia.
3. Keserakahan membuat manusia kehilangan logika moral
Dalam banyak studi perilaku (termasuk Stanford Experiment dan Harvard Business Review), orang yang terus-menerus mengejar keuntungan pribadi lebih mudah menipu, berbohong, atau mengambil hak orang lain, bahkan tanpa rasa bersalah. Keserakahan bisa mematikan empati.
4. Hati yang bersyukur justru lebih sejahtera
Penelitian psikologi positif (UC Berkeley, 2018) menunjukkan bahwa orang yang bersyukur merasa hidupnya 25% lebih sejahtera dibanding mereka yang berfokus pada apa yang belum dimiliki.
Rasa cukup adalah bentuk kekayaan rohani yang sejati.
5. Alkitab menyebut keserakahan sebagai “penyembahan berhala”
“Keserakahan sama dengan penyembahan berhala.” (Kolose 3:5)
Karena yang serakah tidak lagi menyembah Tuhan, tetapi menyembah “rasa ingin punya lebih.”
KEINGINAN BERLEBIH YANG TAK BISA DIKENDALIKAN SEKALIPUN MASIH DALAM HATI DAN BELUM TERWUJUD DALAM TINDAKAN, ITUPUN KESERAKAHAN
Posting Komentar untuk "Mewaspadai Keserakahan"