Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PUJIAN, PENYEMBAHAN, DAN REVIVAL YANG SEJATI

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, hari ini kita bicara tentang pujian, penyembahan, dan revival. Revival sendiri secara sederhana bisa diartikan sebagai kebangkitan rohani atau kebangunan rohani.

Banyak orang rindu revival, rindu kebangunan rohani. Semua kita rindu adanya revival yang terwujud dalam:  iman yang hidup, hati yang dipulihkan, keluarga yang diberkati, gereja yang bertumbuh.

Kita rindu iman kita bukan menjadi iman yang tertidur apalagi iman yang mati. Kita rindu iman kita menjadi iman yang hidup. Iman yang mengenal Tuhan secara pribadi, mengalaminya dan taat akan kehendak Tuhan.

Kita rindu hati kita juga mengalami revival. Hati yang dipulihkan. Hati yang bebas dari kepahitan, iri hati, kekuatiran dan sebagainya. Hati yang siap menyambut revival yang Tuhan kerjakan atas hidup kita.

Kita juga rindu keluarga kita diberkati. Mengalami revival dalam keluarga kita. Hubungan kita dipulihkan. Kasih kita dikuatkan. Keluarga kita dicukupkan secara finansial terlebih secara hati.

Serta kita pun rindu gereja kita mengalami revival menjadi gereja yang bertumbuh dengan sehat. Bukan sekedar untuk terlihat lebih baik dari gereja lain, bukan itu tujuan revival. Namun biarlah gereja kita bertumbuh selaras dengan apa yang Tuhan mau. Dipakai Tuhan untuk memulihkan dan memenangkan banyak jiwa bagi Tuhan.

Dan sering kali, ketika kita bicara revival, pikiran kita langsung tertuju pada pujian dan penyembahan. Yang kita ingat adalah suasana ibadah KKR dimana ada ratusan atau bahkan ribuan orang bersorak sorai memuji Tuhan, orang-orang menyembah Tuhan dengan air mata. Mujizat terjadi dan sebagainya.

Itu tidak salah. Namun, hari ini kita mau belajar dari Alkitab, bagaimana pujian–penyembahan itu penting, dan bagaimana Tuhan mau membawa pujian dan penyembahan kita lebih jauh lagi sampai hidup kita benar-benar berubah.


PUJIAN DAN PENYEMBAHAN ITU PENTING

Saudara, mari kita tegaskan dulu dengan jelas: Pujian dan penyembahan itu penting di mata Tuhan bukan sekedar pelengkap ibadah.

Sejak zaman Daud, umat Tuhan memuji dengan nyanyian, musik, dan sorak sorai. Tuhan tidak menolak pujian umat-Nya.

Artinya, Tuhan senang ketika kita memuji dengan hati yang tulus dan Tuhan berkenan dengan umat yang datang menyembah Alkitab penuh dengan ajakan untuk memuji Tuhan:

Mazmur 150:6

“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN. Haleluya!”

Selama kita masih hidup dan bernafas, kita dipanggil untuk memuji Tuhan.


Mazmur 95:6

Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita..”

ayat ini mengingatkan kita bahwa kita diciptakan untuk menjadi penyembah.


Efesus 5:19

dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati

Orang percaya memuji Tuhan bukan hanya di gereja, tapi juga di rumah dan dalam pekerjaan.

Pujian dan penyembahan bukan hal kecil, dan bukan sekadar pengisi waktu ibadah.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, banyak orang menganggap pujian penyembahan hanyalah bagian awal ibadah, sekadar pemanasan sebelum firman Tuhan disampaikan.

Padahal, dalam Alkitab, pujian penyembahan memiliki peran yang sangat penting. Melalui pujian penyembahan, Tuhan bekerja di dalam hati manusia dan dari sanalah revival atau perubahan hidup bisa dimulai.

Bagaimana pujian dan penyembahan dapat menjadi bagian penting dari revival?

Hari ini kita akan melihat tiga hal tentang pujian penyembahan.

1.     PUJIAN PENYEMBAHAN MEMBAWA KITA DEKAT DENGAN TUHAN

Mazmur 22:4 (TB)

“Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.”

Tuhan tidak jauh.
Tetapi sering kali kita yang merasa jauh karena pikiran dan hati kita penuh dengan hal lain.

Ilustrasi sehari-hari:

Bayangkan seorang anak yang tinggal satu rumah dengan ayahnya.
Setiap hari mereka bertemu, tetapi jarang berbicara.
Apakah ayahnya jauh? Tidak.
Tetapi hubungannya terasa jauh karena tidak ada komunikasi.

Pujian penyembahan itu seperti anak yang mulai berbicara dengan ayahnya,
menyapa, mengungkapkan isi hati.
Saat itulah hubungan terasa dekat kembali.

Artinya bukan Tuhan baru datang kalau dipuji, tetapi ketika kita memuji, hati kita dibawa sadar bahwa Tuhan sudah hadir.

Kalimat sederhana:

Pujian tidak membuat Tuhan mendekat, pujian membuat kita mendekat kepada Tuhan.

Sebab kalau dari pihak Tuhan kita tahu bahwa Dia adalah pribadi yang selalu rindu dekat dengan kita.

Sebenarnya yang Tuhan rindukan itu bukan sekedar pujian penyembahan yang kita naikan, tetapi kedekatan dengan kitalah yang Tuhan rindukan. Persekutuan itulah yang menyenangkan hati Tuhan.

Ingat peristiwa Adam jatuh dalam dosa. Siapa yang mendekat dan siapa yang menjauh?

Ayat pendukung:

Yakobus 4:8a (TB)

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”

👉 Saat kita memuji dan menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh,
kita sedang mendekat kepada-Nya.

Dan inilah langkah awal bagi terjadinya revival atas hidup kita. Revival dimulai ketika kita mendekat kepada Tuhan, dan pujian penyembahan menjadi sarana untuk kita mendekat kepada Tuhan.


2. PUJIAN PENYEMBAHAN MEMBUKA HATI KITA

Setelah pujian penyembahan membawa kita mendekat kepada Tuhan, maka pujian penyembahan itu akan mulai membuka hati kita untuk mengerti apa yang Tuhan mau. 

Sering kali bukan Tuhan yang tidak mau berbicara, tetapi hati kita yang tertutup karena: kepahitan, kekecewaan dan dosa yang disimpan. 

Disinilah peran pujian penyembahan itu. Saat kita memuji dan menyembah Tuhan hati kita akan dibuat menyadari betapa mulianya Tuhan betapa besarnya Tuhan, sehingga kita mulai menyadari betapa kita memerlukan Tuhan dan betapa kita seringkali melanggar kekudusan Tuhan dengan melakukan kesalahan dan dosa.

Oleh karena itulah Firman Tuhan mengatakan bahwa pujian dan penyembahan yang berkenan dihadapan Tuhan sebagai sebuah korban sembelihan itu bukan suara yang merdu, bukan musik yang indah, bukan kata-kata yang manis 

tapi jiwa yang hancur dan hati yang patah karena menyadari betapa kita memerlukan Tuhan, betapa kita telah berdosa dan rindu diubahkan, inilah korban sejati yang sepatutnya kita bawa kehadirat Tuhan setiap kali kita memuji dan menyembah Tuhan.

Mazmur 51:19a (TB)

“Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”

Ilustrasi sehari-hari:

Hati manusia seperti tanah. Tanah yang keras tidak bisa ditanami benih. Sebagus apa pun benihnya, tidak akan tumbuh.

Pujian penyembahan seperti air yang melunakkan tanah. Saat kita menyembah Tuhan, hati yang keras mulai dilembutkan, air mata bisa jatuh bukan karena nada atau suasana dalam penyembahan namun karena hati kita telah terbuka, dan kita mulai jujur di hadapan Tuhan. Hadirat Allah membuat manusia sadar akan kekudusan-Nya dan kelemahan dirinya.

Pengalaman di Cianjur

selain membuka hati terhadap kelemahan dan kesalahan kita yang perlu kita perbaiki, pujian penyembahan juga membuka hati untuk percaya akan pertolongan Tuhan seperti kisah raja Yosafat dan bangsa Yehuda.

Ayat pendukung:

2 Tawarikh 20:22 (TB)

“Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan puji-pujian, Tuhan menghadang musuh-musuh mereka…”


Konteks 2 Tawarikh 20:22 (TB)

  • Bangsa Yehuda sedang menghadapi ancaman besar dari gabungan beberapa bangsa musuh.

  • Raja Yosafat takut, tetapi memilih mencari Tuhan, bukan mengandalkan kekuatan militer.

  • Seluruh bangsa dikumpulkan untuk berdoa dan berpuasa.

  • Tuhan berbicara melalui nabi bahwa peperangan itu milik Tuhan, bukan milik mereka.

  • Respons bangsa Yehuda adalah:

    • percaya kepada firman Tuhan

    • memuji Tuhan lebih dahulu, bukan berperang lebih dahulu

  • Saat mereka mulai menyanyikan puji-pujian, Tuhan sendiri yang mengacaukan dan mengalahkan musuh-musuh mereka.


Makna untuk Poin Kedua Khotbah

  • Pujian penyembahan adalah respon iman, bukan reaksi emosi.

  • Pujian membuka hati umat untuk percaya dan taat kepada firman Tuhan.

  • Ketika hati terbuka dan taat, Tuhan yang bekerja.

👉 Intinya:
2 Tawarikh 20:22 menunjukkan bahwa pujian penyembahan yang lahir dari iman membuka jalan bagi pekerjaan Tuhan, bukan karena kekuatan manusia.

👉 Saat hati terbuka melalui pujian, Tuhan mulai bekerja dengan cara-Nya sendiri.

bukan karena lagunya atau musiknya, namun karena hati kita terbuka dan percaya akan pertolongan Tuhan.


3. PUJIAN PENYEMBAHAN SEJATI BERUJUNG PADA PERUBAHAN HIDUP (REVIVAL)

Dalam Alkitab, revival tidak pernah berhenti di ibadah.

Revival bukan ibadah yang ramai, tetapi hidup yang berubah.

Tuhan pernah berkata: “Aku muak dengan nyanyianmu.”

Amos 5:23 Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar.

Kenapa? Karena hidup umat-Nya tidak benar.

Saudara, mari kita jujur:

·        Tuhan tidak mencari suara paling indah

·        Tuhan mencari hati yang taat

Pujian penyembahan bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah hidup yang berubah.

Jika seseorang rajin menyanyi di gereja, tetapi tetap hidup dalam dosa dan tidak mau bertobat,
maka pujiannya belum sampai kepada tujuan apa yang Tuhan mau. Jadi disini kita belajar bahwa bahkan pujian penyembahan yang sepertinya bertujuan untuk Tuhan, ternyata sebenarnya pujian penyembahan itu justru bertujuan untuk kebaikan kita, agar kita hidup benar dan mengalami pemulihan serta berkat dari Tuhan.

Anak yang Pandai Memuji, tapi Tidak Taat

Bayangkan ada seorang anak yang sangat pandai memuji ayahnya. Setiap hari ia berkata,
“Ayahku hebat, ayahku baik, ayahku luar biasa.”

Tetapi ketika ayahnya berkata:

  • “Tolong belajar dengan rajin,” ia tidak mau.

  • “Jangan berbohong,” ia tetap berbohong.

  • “Jangan pulang larut malam,” ia mengabaikannya.

Anak itu pandai memuji, tetapi tidak mau taat.

Apakah ayahnya senang mendengar pujian itu?
Mungkin senang mendengar katanya,
tetapi hatinya sedih melihat sikap anaknya.

Demikian juga dengan Tuhan. Tuhan tidak hanya mendengar lagu pujian, tetapi melihat ketaatan hidup.

Roma 12:1 (TB)

“Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup… itulah ibadahmu yang sejati.”

Penyembahan sejati bukan hanya:

  • mulut yang memuji

  • tangan yang terangkat

tetapi:

  • hidup yang taat

  • sikap yang mau diubahkan


Revival bukan terjadi karena:

  • suara keras

  • lagu panjang

  • suasana emosional

Revival terjadi ketika:

  • hati disentuh

  • hidup berubah

  • kita berkata, “Tuhan, aku mau taat.”

👉 Pujian yang sejati selalu berujung pada ketaatan.

Ayat pendukung:

Yesaya 6:1–8 (TB, diringkas)
Yesaya melihat Tuhan, menyembah-Nya,
disadarkan akan dosanya,
lalu berkata:

“Ini aku, utuslah aku!”

👉 Revival terjadi ketika penyembahan menghasilkan ketaatan.

PENUTUP (±3 menit)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Pujian dan penyembahan:

1. Membawa kita dekat dengan Tuhan

2. Membuka hati kita

3. Mengubah hidup kita

Mari kita datang kepada Tuhan bukan hanya dengan lagu di bibir, tetapi dengan hati yang terbuka
dan hidup yang mau diubahkan.

Biarlah dari pujian penyembahan kita, Tuhan menghadirkan revival yang nyata di dalam hidup kita, keluarga kita, dan gereja kita. Amin.

Posting Komentar untuk "PUJIAN, PENYEMBAHAN, DAN REVIVAL YANG SEJATI"