Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rindu Hidup Jadi Berkat

“HATI YANG BERSIH, HIDUP YANG MENJADI BERKAT”

Saya mau mulai renungan ini dengan sebuah cerita sederhana. Di sebuah desa, ada dua tetangga yang sama-sama punya kebun. Yang satu rajin, yang satu juga rajin. Yang satu berdoa, yang satu juga berdoa. Tetapi ada satu perbedaan.

Yang pertama, setiap kali panennya bagus, dia langsung berkata, “Puji Tuhan, ini berkat untuk saya dan keluarga saya.” Dia simpan hasilnya baik-baik. Takut kekurangan. Takut kalau besok gagal panen.

Tetangganya yang satu lagi juga panen dengan baik. Tetapi setiap kali panen, dia selalu menyisihkan sedikit. Kalau ada tetangga sakit, dia bawakan singkong atau beras. Kalau ada yang kekurangan, dia berbagi semampunya.

Orang itu mau berbagi Bukan karena rumahnya besar. Bukan karena orangnya kaya. Tetapi karena hatinya lapang. Dua-duanya diberkati. Tetapi hanya satu yang menjadi berkat.

Dari cerita sederhana ini, kita belajar satu hal penting: Berkat bukan hanya soal apa yang kita terima, tetapi soal apa yang keluar dari hidup kita. Dan Alkitab mengajarkan, bahwa berkat yang benar selalu dimulai dari hati yang bersih dan berakhir pada hidup yang menjadi berkat.

Hari ini kita mau berbicara tentang satu kata yang sangat sering kita dengar, sering kita doakan, dan sering kita harapkan, yaitu berkat.

Kalau kita berkata, “Tuhan, berkati aku,” biasanya yang langsung kita pikirkan adalah:

  • Uang atau materi

  • rezeki lancar

  • usaha jalan

  • keluarga aman

Itu tidak salah. Alkitab tidak melarang kita berharap hal-hal itu. Tetapi Alkitab mengajarkan bahwa berkat tidak hanya soal uang atau harta. Alkitab berkata dalam Efesus 1:3, bahwa Tuhan sudah memberikan kepada kita segala berkat rohani di dalam Kristus. Artinya:

  • berkat itu bukan hanya apa yang kita punya

  • tetapi siapa yang menyertai hidup kita

  • dan bagaimana Tuhan memimpin hidup kita#materi, kekayaan, kedudukan, kemampuan kita hanyalah alat atau sarana agar orang mengalami berkat yang sesungguhnya, yakni penyertaan dan pimpinan Tuhan

Yesus juga berkata:
“Berbahagialah orang yang lemah lembut.”
“Berbahagialah orang yang membawa damai.”

Tidak ada bicara soal kaya, tetapi Yesus menyebut mereka berbahagia. Jadi, sejak awal mari kita pahami bersama: berkat menurut Alkitab bukan hanya soal materi, tetapi soal hubungan kita dengan Tuhan.

ADA 3 POIN PENTING YANG PERLU KITA PAHAMI MENGENAI BERKAT

POIN 1 BERKAT DIMULAI DARI HATI YANG BERSIH

Sekarang mari kita baca Mazmur 24:3–5.

“Siapakah yang boleh naik ke gunung TUHAN?
Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya…
Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN.”

Firman Tuhan jelas berkata: berkat dimulai dari hati yang bersih. Tuhan sangat peduli dengan hati kita. Hati yang bersih bukan berarti hidup kita tidak pernah salah. Tetapi hati yang:

  • mau minta ampun

  • mau diperbaiki

  • tidak memelihara iri hati, dendam, dan sakit hati

Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang suci hatinya.” (Matius 5:8) Artinya: Tuhan lebih melihat isi hati, bukan hanya penampilan luar.

Contoh dalam Alkitab: Daud

Sebelum diberkati dan sebelum jadi raja, Tuhan sudah melihat kualitas hati Daud. Daud memiliki hati yang bersih, bukan karena dia sempurna dan tak pernah salah. Daud pernah jatuh dalam dosa yang keji, berzinah dan menjadi otak pembunuhan kejam. Namun ketika ditegur, dia langsung minta ampun kepada Tuhan dan bertobat

Mazmur 51:12 Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

Menariknya, Daud tidak meminta posisinya dikembalikan. Ia tidak meminta reputasinya dipulihkan. Ia tidak berkata, “Tuhan, pakailah aku lagi.” Yang ia minta satu: hatinya dibersihkan. Karena Daud tahu, tanpa hati yang bersih, apa pun yang ia lakukan akan rusak di tengah jalan.

Dari sini kita mulai melihat bahwa hati yang bersih bukan tujuan akhir, melainkan fondasi bagi hidup yang benar dan diberkati Tuhan. Sering kali kita minta Tuhan menuangkan berkat, tetapi Tuhan melihat dulu: hati kita siap atau belum.

Karena itu Amsal berkata: “Jagalah hatimu, karena dari situlah keluar kehidupan.” Tuhan lebih dulu mau membersihkan hati kita, baru Dia mau mempercayakan berkat.

POIN 2

BERKAT TIDAK UNTUK BERHENTI PADA DIRI SENDIRI

Setelah hati dibersihkan, kita belajar hal kedua: berkat Tuhan tidak pernah dimaksudkan untuk berhenti pada kita saja. Ketika Tuhan memberkati Abraham, Tuhan berkata: Kejadian 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Artinya: Tuhan memberkati supaya hidup kita bisa dipakai untuk memberkati orang lain. Analoginya Air sungai yang mengalir, airnya segar. Tetapi air yang diam, lama-lama bau.

Berkat juga begitu. Kalau hanya disimpan, hati kita bisa jadi keras. Takut memberi. Takut kekurangan. Alkitab berkata: “Siapa yang murah hati, akan dipuaskan.”

Menimbun berkat untuk diri sendiri tidak akan pernah membawa kepuasan, justru ketika berbagi itulah ada kepuasan yang tak tergantikan dengan apapun Berkat yang berhenti di kita, lama-lama bisa merusak hati kita.

Yesus pernah menceritakan sebuah perumpamaan. Ada seorang petani yang tanahnya memberi hasil berlimpah. Panennya berhasil. Gudangnya penuh. Itu berkat. Yesus tidak berkata panennya salah. Yang menjadi masalah adalah isi hatinya.

Orang itu berkata dalam hatinya: “Apa yang harus aku perbuat? Aku akan merombak lumbung-lumbungku dan membangun yang lebih besar. Di situlah aku akan menyimpan semua hartaku.”

Perhatikan, dalam ceritanya, tidak ada kata:

  • Tuhan

  • syukur

  • berbagi

Yang ada hanya satu kata yang berulang: aku… aku… aku…

Lalu orang itu berkata:
“Jiwaku, beristirahatlah, makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah.”

Tetapi pada malam itu juga, Tuhan berkata: “Hai engkau orang bodoh, malam ini jiwamu akan diambil daripadamu.”

Yesus menutup cerita itu dengan satu kalimat tajam:

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri,
tetapi tidak kaya di hadapan Allah.”

Berkat itu datang dari Tuhan, tetapi hati orang ini berhenti pada dirinya. Yesus tidak sedang menegur orang yang bekerja keras. Yesus juga tidak menegur orang yang panennya berhasil. Yang Yesus tegur adalah hati yang merasa cukup tanpa Tuhan dan berkat yang berhenti pada diri sendiri.

Dan sekarang pertanyaannya bukan lagi tentang petani dalam cerita itu. Pertanyaannya adalah tentang kita. Ketika Tuhan memberkati kita:

  • hasil panen cukup

  • usaha berjalan

  • anak-anak sehat

Apakah itu membuat kita:

  • lebih bersyukur?

  • lebih ringan tangan?

  • lebih dekat kepada Tuhan?

Atau justru:

  • lebih takut berbagi?

  • lebih sibuk menumpuk?

  • lebih jarang mengingat Tuhan?

Berkat yang tidak dijaga dengan hati yang bersih, perlahan bisa menggeser Tuhan dari pusat hidup kita

Itulah sebabnya Tuhan mengajarkan kita untuk memberi persembahan dan perpuluhan. Bukan semata untuk Tuhan atau karena Tuhan kekurangan, namun untuk melatih kita agar tidak terikat pada berkat dan belajar melepaskan apa yang kita miliki.

POIN 3

HATI YANG BERSIH MEMBUAT KITA RINDU MENJADI BERKAT

Orang yang hatinya bersih, biasanya punya satu ciri: ia rindu hidupnya berguna. Orang yang bersih hatinya mungkin tidak selalu punya banyak harta, tetapi selalu punya hati yang mau berbagi. Orang yang hatinya bersih mungkin tidak hebat, tetapi selalu mau menolong.

Yesus berkata: “Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Kita tidak harus kaya untuk menjadi berkat. Seperti stop kontak di rumah. Stop kontak tidak menyimpan listrik. Tetapi lewat dia, lampu bisa menyala. Kita pun dipanggil Tuhan bukan untuk menyimpan berkat, tetapi menjadi saluran berkat.

Contohnya adalah Maria, dia berkata dalam (Lukas 1:38)

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Maria tidak diberi jaminan hidupnya akan mudah. Ia hanya diberi satu panggilan: taat. Hati Maria tidak bercabang. Ia tidak menawar kehendak Tuhan. Ia tidak berkata, “Tuhan, aku taat asal aman.” Ia berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Contoh Praktis:

Dalam keluarga, ketika harus memilih mengalah demi damai, meskipun ego kita ingin menang.

Dalam pekerjaan, ketika tetap jujur meski jalan itu lebih sulit.

Dalam kehidupan rohani, ketika firman Tuhan menegur area tertentu dan kita memilih taat tanpa menunda.

Hati yang bersih bukan hati yang tahu segalanya, tetapi hati yang rindu jadi berkat. Dan dari hati seperti inilah, Kristus lahir ke dunia.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi tahun depan, namun satu hal yang selalu harus ada dalam hati kita, yakni kerinduan untuk jadi berkat.

 PENUTUP

Mari kita periksa hati kita hari ini. Mungkin Tuhan belum menambah berkat, karena Dia sedang membersihkan hati.

Mari ubah doa kita. Bukan hanya: “Tuhan, berkati aku.” Tetapi juga: “Tuhan, bersihkan hatiku.” “Pakai hidupku untuk jadi berkat.”

Natal adalah hari kelahiran Tuhan kita, Ulang tahun Tuhan Yesus. Kalau saudara ditanya, kado apa yang engkau mau berikan bagi Tuhan? Apa jawabmu? Kalau engkau bertanya kepada Tuhan, Tuhan mau kado apa? Tuhan akan menjawab : Nak, aku tidak minta apa-apa, Aku hanya rindu hidupmu jadi berkat

Mari kita persembahkan hidup kita bagi Tuhan sebagai penyembahan yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Posting Komentar untuk " Rindu Hidup Jadi Berkat"